Hampir setahun yang lalu, sempat
lupa kini kembali teringat. Dan malam ini aku kembali menemukan, meski hanya
akun Facebook mu. Tak apa , Mungkin bisa kembali di mulai lewat itu. Dan
kenangan itu, masih lekat.
Setahun yang lalu, 2 hari setelah
perpisahan SMA aku tiba di Medan untuk mengambil Program Intensif di salah satu
bimbingan belajar, MEDICA. Bersama ketiga temanku Rahmad, Rezky,Michael. Kami
juga memutuskan untuk mencari kamar kost, untuk berbagi hidup selama sebulan
penuh, Meski kami memimpikan Universitas yang berbeda.
Hari pertama Bimbingan terasa
biasa saja, hanya aku kembali bertemu empat teman SMA disana. Total kami
berdelapan mencoba meraih asa di kota itu. Bidang Study pertama sudah selesai
di ajarkan kak Tentor(namanya saya lupa). Dan itu berarti saat nya untuk kuis.
Setelah mendapat lembar jawaban kuis dan mengisinya dengan data yang benar, aku
mulai mengisinya dengan serius, tidak dengan mencontek seperti yang biasa aku
lakukan dulu(di Bimbel Sekolah).
Dan, disinilah aku melihat
perempuan itu, berambut pendek sebahu, bertubuh kecil hampir sama
sepertiku.Memakai baju lengan pendek putih, selaras dengan kulitnya yang putih,
meski wajah nya tak kelihatan karena aku duduk dibelakangnya. Aku tersenyum.
Hari pun berlanjut, dan hasil
kuis pun ditempel di dinding bawah, di ruang diskusi. Dan tentu saja , nama ku
tidak berada di atas, hanya nomor 5, tapi cukup lumayan untuk hari pertama.Dan
aku melihat nama di nomor 1 dengan tak ada jawaban yang salah alias sempurna.
Setelah terkesan dan berdecak kagum, aku naik ke ruanganku, di lantai 2. Aku
ingin mengenal dan berteman dengan si nomor 1 itu, berharap bisa mendapatkan
sedikit kepintarannya.
Aku kembali melihat perempuan
itu, tapi kini memakai baju kuning, cukup menyejukkan mata. Aku pun kembali
tersenyum sambil berharap bisa ngobrol dengannya, atau paling tidak say hello.
Dan gelagatku memperhatikan akhirnya ketahuan oleh Rahmad, dia berkata ‘ apa
lagi boe, paten itu’. Aku hanya tersenyum.
Dan senangnya aku, ternyata si
nomor 1 itu adalah perempuan berambut sebahu itu. Dan yang paling penting, aku
sudah tahu namanya dengan tak harus berkenalan. Hari berganti hari sampai
hitungan minggu, Waktu yang tinggal sedikit dan aku belum juga say hello
padanya. Perasaan jadi gak karuan, mungkin saat sekarang kata yang paling tepat
adalah galau.
Pagi selanjutnya, dingin, dan aku
tak menemukan rambut sebahu itu. Aku liat di belakang, mungkin saja dia
berganti bangku, namun tak ada juga, sampai aku mendengar dia sakit. Tidak
melihatnya satu hari aja, rasanya sangat tidak enak. Menghilangkan rasa itu,
aku memutuskan bermain game online di wanet dekat kost-an. Dan Rahmad
mengatakan kata-kata hebat, mengguncang dan tentu saja membahagiakan. Dia
berhasil mendapatkan nomor hp perempuan itu dengan mengandalkan relasi dan sedikit
kerja keras.
Aku memintanya dan dia
memberinya. Namun aku sedikit terdiam, tak punya keberanian mengetik kata-kata,
apalagi mengirimnya. Tapi aku memberanikan diri, dan mengirimkan ‘ ***** ya ?
’. Namun tak ada balasan, sedikit kecewa, aku melanjutkan game ku. Dan hp ku
bergetar, tentu saja hatiku juga bergetar melihat kalimat ‘ iya, ini siapa ya
?’. Dengan muka memerah kami melanjutkan percakapan itu, dan terasa sangat
nyaman.
Tapi keesokannya, aku tak menyapa
nya. Bukan apa-apa, hanya tak punya keberanian untuk itu. Dia mengambil bangku
di belakang, tidak seperti biasanya. Fisika pun sedang di jelaskan tentor, aku
tak mendengarkan. Fisika sangat tidak kusukai, tapi perempuan itu suka. Aku
hanya melamun dan bercanda-canda dengan rezky yang juga memiliki masalah yang
sama dengan fisika. Kami cukup ribut
sampai hp ku bergetar. Ternyata Perempuan itu mengirim pesan, hanya berjarak 2
bangku di belakang ku. ‘ Belajar nya yang serius ya, jangan main-main’. Isi
pesan yang masih ku ingat, senang bukan main. Aku menoleh kebelakang, dia
tersenyum manis dan aku membalasnya.
Hari terus berlanjut, aku membeli
cokelat Tim Tam untuk dimakan bersama. Tapi tidak jadi, Rahmad mendesakku untuk
memberikannya pada perempuan itu. Aku menyetujuinya. Paginya, sepanjang hari aku
berpikir keras. Bukan untuk menjawab soal kuis, tapi menyusun kalimat yang
benar untuk memberikannya. Sampai malam tiba, hari berakhir dan dia keluar
ruangan, menuruni tangga. Aku berlari , menuruni anak tangga dengan cepat dan
terus berlari. Aku memanggilnya dengan suara yang sudah pasti gemetar.
‘ **, ini ada Tim Tam untuk mu’.
‘ Makasi ya mam, kau udah?’
‘udah udah, itu untuk mu kok’
‘ Makasi ya’ sambil tersenyum.
Dia pun memberhentikan angkutan umum dan pulang. Aku berlari
kegirangan menemui teman-temanku yang masih di atas. Senangnya.
Tapi aku belum kunjung
mengatakan. Meski aku rasa dia juga punya rasa yang sama. Aku hanya tak berani,
dan mungkin tak akan berani. Untuk mengatakan ‘hai’ saja sudah susah, apalagi
yang menyangkut soal ini, sensitif. Aku membiarkan nya berlanjut.
Sampai tiba hari terakhir,
Pelepasan kami untuk ujian SNMPTN. Mendatangi Pardede Hall dengan perasaan
kacau. Bertekad untuk berani paling tidak kali ini saja. Selesai mengikuti
acara, kami diberikan bunga oleh panitia satu persatu. Aku mendapatkan bunga
pink muda, terkesan simple dan sejuk. Aku ingin memberinya itu, dan memberinya
kata-kata yang mungkin terdengar gila.
Aku beranjak dari tempatku duduk,
mencari keberadaannya di antara ribuan orang yang ada sana. Dan aku menemukannya.
Memakai baju yang sama saat pertama kali aku melihatnya. Baju putih lengan
pendek. Dia terlihat sendiri, berdiri, seperti menunggu. Aku bergegas, berlari
menujunya dan masih memegang bunga itu. Tapi aku terhenti, ketidakberanianku
datang, malah lebih kacau dari yang sebelumnya. Dia bergegas keluar, melewati
pintu dan hilang. Aku terdiam, semengatku meledak. Aku berlari keluar dan
menggengam erat bunga itu hingga hampir rusak.
Tapi aku terkejut, dia bukan
pergi. Dia berdiri di depan pintu,sendiri dan masih seperti menunggu. Aku
melihatnya dan dia melihatku. Mata kami bertemu, dan raut mukanya seperti
hendak memberikan senyuman namun seperti tertahan. Dan bodohnya aku, aku
mengalihkan mataku, dan berlalu. Aku pergi dan tak kembali lagi. Aku tak tau
bagaimana perasaannya, tapi aku merasa bahwa benar dia sedang menunggu, dan
yang ditunggu adalah aku. Aku percaya, tapi mengabaikannya.
Itu adalah hari terakhir aku
melihatnya, dan tak pernah lagi. Sampai aku mendengar perempuan itu lulus di
Fakultas Kedokteran USU dan aku menjadi calon pendidik di UNIMED. Masih satu
kota, dan aku belum berani mencarinya.

Semangat gan
BalasHapusHal pertama, coba berbuat dahulu
sebuah pendahuluan darimu bakalan jadi awal kisah yang bagus untuk dijalani
Makin terasa sakit jika tak memulai, apalagi hal ini telah berjalan hingga 1 tahun walaupun tak jumpa dengannya