Kamis, 07 Februari 2013

Tetangga




Oke manteman, kali ini aku gak mem-post tulisanku sendiri. Aku nemu sebuah tulisan yang menurut ku bagus dari tangan seorang polos, pelajar SMU , tetanggaku sendiri. Dan percayalah , tidak ada nepotisme dalam tindakan ini. Huehehe
Jika terdapat kesalahan tullisan, atau paragraf yang sedikit berantakan itu sengaja. Karena aku ingin menjaga keaslian tulisan tersebut. Jika ada kesamaan peristiwa dan nama tokoh itu tanya sendiri ke orangnya ya, klik disini.



Senyum mungil itu masih melekat indah di memoriku. Teringat saat kami bermain bersama di bawah pohon yang rindang di ujung jalan. Aku benar-benar merindukan saat itu. Sepuluh tahun sudah aku berpisah dengan sahabatku, Rina. Kini aku hidup dengan keceriaan di siang hari dan tangisan di malam harinya. Aku bisa merasakan persahabatan ini masih utuh sampai sekarang, meski ruang dan waktu telah memisahkan kami, tapi aku percaya suatu saat nanti kami pasti akan dipertemukan kembali oleh sang pemilik sekenario terindah. Tiap sujud dan do’aku terselip namamu sahabatku, semoga kita bisa bertemu kembali dengan kebahagiaan dan dalam suasana terindah. Malam semakin larut, aku masih di atas gelaran sajadah berdo’a untukmu  dan persahabatan kita. Tangisku juga pecah malam itu saat rekaman gambar tentang kebersamaan kita dulu kembali terputar di monitor otakku. Hatiku sesak hingga susah menghembuskan nafas. Rasa bersalah, kerinduan, kini menyelimuti relung jiwaku yang terpaku dalam bingkai masa lalu. Mungkin kau berpikir aku begitu egois saat itu, tak mau mengeluarkan sepatah kata pun tentang keadaanku yang membuatmu bertanya-tanya. Aku begitu keras kepala tak ingin berbagi padamu, padahal kita sudah berjanji untuk berbagi satu sama lain.
Masalah keluarga yang harus ku hadapi di usia tujuh tahun membuatku mulai menjauh dari kehidupanmu, meskipun aku tau kau pasti merasakan kesepian karna aku tak pernah lagi bermain denganmu, aku juga merasakan hal yang sama, tapi aku tetap saja dengan keegoisanku yang tak memperdulikan kebahagiaanmu. Aku takut, takut kau akan mencela kehidupanku yang mencekam jiwa ini. Aku belum siap menerima resiko jika aku bercerita denganmu dan kau akan menceritakannya pada teman kita yang lain. Dengan semua kebodohanku aku meragukan persahabatan kita dan berpikir sesempit itu sampai aku melupakan kedudukanmu sebagai sahabat di hidupku.
***
Pagi itu Ayah terlihat sudah rapi, tak seperti pagi-pagi biasanya. Ibu juga tak terlihat batang hidungnya. Perang dingin yang sedang disembunyikan dariku mungkin terjadi lagi diantara mereka berdua. Aku benar-benar tersiksa dengan keadaan ini. Ayah memburuku segera bersiap untuk diantar ke sekolah. Begitu cepat mobil Ayah berlalu meninggalkanku di depan pintu gerbang sekolah, lekat-lekat ku pandangi bagian depan sekolahku kemudian aku berlari sekencang-kencangnya meninggalkan sekolah menuju pohon rindang di ujung jalan rumahku.
“Rina, kamu dimana ? aku sendiri disini.” Ucapku lirih
Aku tertegun melihat bayanganmu sedang berlari menuju tempatku. Tidak, itu bukan bayanganmu itu adalah dirimu yang sesungguhnya yang selalu bisa menemukanku di bawah pohon itu. Ketakutanku kembali muncul, kau semakin mendekat ke arahku dengan senyummu yang membentuk dua sumur di pipi kanan dan kirimu. Aku berlari menjauh darimu yang hampir sampai di hadapanku dan meninggalkanmu dengan sejuta kekecewaan yang mungkin kau rasakan. Aku menyadari kalau hatimu kecewa, aku terus berlari meninggalkanmu di bawah pohon tempat kita biasa bermain. Sesekali ku lihat ke belakang dank au terus mengejarku, sudah terlalu jauh aku berlari tak ku temui lagi dirimu di belakangku hanya keramaian orang yang dapat ku lihat dari kejauhan. Langkah kaki membawaku kembali ke pohon, aku melewati keramaian itu dan dengan rasa penasaran, tubuhku yang mungil menyelip dari kerumunan itu. Aku melihat seseorang yang tak asingdi duniaku, gadis mungil yang mengejarku tadi telah tertidur bermandikan darah di tengah jalan. Aku menjerit sejadi-jadinya, beningan putih mencoba membuat danau di pipi tomatku.
“Astaghfirullah, aku ketiduran. Sudah subuh ternyata ? ”  aku kembali terjaga dan melaksanakan kewajibanku. Pagi ini masih saja sama seperti pagi-pagi biasanya, rumah terasa dingin tanpa senyum dari 2 malaikat hidupku. Ku pandangi wajah ibu dengan dekat seakan aku masuk ke dalam hidupnya . keperihan itu semakin terasa di kedua bola matanya diiringi rasa sakit yang terus menghampiriku. Aku membantu Ibu menyiapkan sarapan pagi, aku berharap Ayah dapat menikmati sarapan bersama kami kali ini. Aku merindukan kebersamaan yang dulu pernah terjadi, saat peristiwa perang dingin diantara mereka berdua belum terjadi. Ku pandangi lagi wajah bidadariku masih dengan wajah yang lembut dan penuh dengan ketenangan, jauh berbeda dari yang dia rasakan sebenarnya. Di meja makan ku lihat ayah duduk seperti menanti sesuatu.
“ itu ayah, Ayah mau sarapan bersama Sofi dan Ibu ? Apa mungkin ? Semoga saja itu benar,. Aamiin.” Pertanyaan yang bertubi -tubi menguasai ruang pikiranku. Tanpa pikir panjang aku mendekati pahlawan gagah itu dengan keceriaan dan mencoba untuk bermanja-manja dengannya. Sempat terbersit di benakku untuk tak melakukan hal itu, aku takut kecewa karna ayah bakal membiarkanku seperti angin lalu. Ternyata pikiran buruk  itu sala. Celotehan lucu tentang hidupku yang ku sajikan untuknya ternyata tak sia-sia, Ayah tertawa dan mengelus kepalaku hingga jilbab putihku agak sedikit berantakan.
“ Ayah, Sofi pagi ini diantar Ayah, kan ? tanyaku mulai merayunya
“anak Ayah kan udah SMA, biasanya juga naik sepeda motor. Tumben minta anterin sama Ayah.” Jawabnya santai sambil memandangi menu sarapan pagi kami.
“ayolah yah,, Sofi rindu diantar lagi sama Ayah.” Hormon Nora adrenalinku berfungsi saat itu, aku berhasil memberanikan diri bermanja-manja dengannya.
“oke deh,,” jawab Ayah singkat diiringi dengan kehadiran senyum khasnya yang telah lama bersembunyi di balik awan keperihan. Pagi ini merupakan nikmat yang tak dapat aku ungkapkan dengan kata-kata. Hanya butiran Kristal yang tumpah dan membentuk danau kecil di pipi yang dapat mengartikan kebahagiaan ini.  Aku bahagia sekali pagi ini, Allah ternyata tak meninggalkanku dan masih sangat menyayangiku. Entah angin apa yang membawa mereka berdua untuk membahagiakan aku pagi ini. Biarlah tak perlu aku pertanyakan hal itu, cukup aku mensyukuri keadaan ini.
***
Percakapan hangat di mobil menuju sekolahku tiba-tiba terhenti dengan jerit kesakitan yang keluar dari bibirku. Belakangan ini perutku sering sakit, tapi aku tak tau apa penyebabnya. Ternyata mereka masih memperdulikan keadaanku, ku coba menahan sakit ini dengan senyuman baik-baik saja. Perjalanan kembali dilanjutkan hingga aku tiba di sekolah, dan menikmati hari ini dengan keceriaan bersama teman-temanku. Rasa sakit itu hilang begitu saja dan aku bisa menikmati kebersamaan hari ini dalam-dalam.
Waktu terus berputar mewakili perputaran bumi. Aku kembali ke rumah dan melaksanakan kewajiban siang seperti biasa. Tak lupa terselip nama seorang sahabat dalam do’aku. Seusai sholat, tiba-tiba aku teringat akan sepucuk surat yang diberi oleh ibu Rina sepuluh tahun lalu setelah kepergian Rina,surat itu ditemukan ibu Rina di atas kasurnya. Gerak refleks menuju meja belajarku tak bisa aku hindari, ku tarik sepucuk surat  yang telah lama bersemayam di laci mejaku. Aku belum pernah membaca benda ini sekalipun, mencoba membukanya saja aku tak berani. Hari ini aku mencoba memberanikan diri untuk membaca oretan tinta yang tertuang di kertas kusam itu. Tanganku dingin seketika, jantungku seakan dihentikan oleh tekanan kuat dari isi surat yang belum ku ketahui, ku amati tinta yang tertuang membentuk kalimat-kalimat hati seorang gadis kecil masa itu.
“ sahabatku Sofi, aku sering main sendiri di bawah pohon persahabatan kita, kamu kenapa sih selalu lari kalau jumpa sama aku ? aku jahat ya ? aku pengen main bareng kamu lagi sofi. Aku udah lama gak menggambar Princess Aurora favorit kita, aku jadi sering main di rumah deh. Besok kita main lagi yuk. Main petak umpet berdua, nulis impian kita kalau udah gede’ ,menggambar putri impian kita, semuanya deh. Oke oke oke ? 
“Tulisan itu terlihat acak-acakan dan tak beraturan. Air mataku tumpah membasahi dan mengaburkan lautan tinta yang telah tersulap menjadi kata-kata, kepedihan ini membawaku kembali hanyut dalam kisah kita yang mungkin akan terus abadi di sepanjang sejarah hidupku. Rasa sakit itu kembali hadir menguasai tubuhku, kali ini sangat sakit, sakit, sungguh sakit. Aliran air mata tak urung berhenti menahan sakit yang ku alami. Keringat dingin juga ikut membanjiri tubuh tak berdaya ini, ku lihat bayangmu di ujung cahaya terang yang menyilaukan pandangan, melambaikan tangan dengan sejuta senyum terkembang di wajahmu. Ingin aku meraih tanganmu, bermain bersama lagi. Uluran tanganmu terasa begitu mudah untuk ku raih, kau seperti membawaku berlari secepat kilat seakan tak sabar  untuk bermain bersama lagi di taman surga Allah nan kekal. Aku bahagia kau mengajakku berkeliling taman yang indah, pepohonan hijau menyejukkan menambah keindahan tempat ini. Seseorang seperti mengguncang tubuhku, tapi aku tak bisa merasakan apa-apa kini, hanya keramaian orang yang menguasai ruangan rumahku, juga isak tangis yang keluar dari seseorang yang tak asing di hidupku, Ibu.

0 komentar:

Posting Komentar