Cerpen ini aku tulis buat ikutan lomba cerpen bertemakan " Koruptor, alangkah lucunya negeriku" yang diadain kampus ku. Iseng ikutan sih awalnya, tapi ya paling udah ngasi partisipasi kan udah punya nilai plus. hehehe
AGUS dan KORUPTOR
Seperti
biasa, pagi ini agus mengawali hari dengan sarapan telur mata sapi, tanpa nasi.
Uang bulanan yang sebenarnya tak cukup untuk hidup sebulan itu hanya tinggal
beberapa keping logam dan beberapa lembar uang seribuan. Bahkan pagi ini Agus
membagai dua telur itu sama-rata, membungkus nya dengan plastik gula beberapa
hari yang ia cuci bersih untuk bekal makan siang di kampus. Beberapa tetes air
mata sempat jatuh diatas telur itu, memberi rasa asin pengganti garam, yang
tidak ia miliki.
Agus
memang menjalani hidup tidak semulus teman temannya, bahkan lebih buruk dari
apa yang ia bayangkan. Agus tinggal di mesjid tua yang secara ajaib masih bisa
berdiri kokoh di antara hotel dan plaza besar tempat orang elit menghabiskan
waktu. Mesjid tua yang bahkan pada saat bulan ramadhan tidak terlalu ramai.
Sedikit aneh tapi maklum, karena mesjid tua itu berada di komplek perumahan
elit, yang katanya 85% merupakan koruptor kakap. Mereka membiarkan agus untuk
tinggal disitu agar mesjid tersebut lebih terurus. Bukan karena peduli, tapi
agar tidak terlalu malu ketika ada wartawan atau semacamnya meliput kehidupan
keseharian mereka dan mendapati mesjid
tua itu terurus. Mereka juga pintar menjawab “ Untuk menjaga keaslian, karena
ini mesjid bersejarah “ ketika ada wartawan bertanya mengapa mesjid tua itu
tidak di perbaiki dan dibangun ulang agar terlihat lebih baik. Mereka tidak
ingin uang mereka berkurang untuk itu, sangat tidak ingin.
Agus
tinggal di ruangan 3X4 yang dulunya merupakan gudang. Bahkan Agus masih tinggal
dengan keranda tua dan mimbar mesjid
yang sudah lapuk dan beberapa peralatan kebersihan yang biasa ia gunakan untuk
membersihkan mesjid tua itu, Mesjid Al-Barokah namanya. Sebenarnya agus juga
sangat risih hidup di lingkungan koruptor-kouptor busuk tersebut, tapi demi
cita-cita sarjananya dan demi meringankan kedua orangtua nya di kampung yang
hanya buruh tani .
Belakangan
ini Agus lebih sering merenung dan bergumam-gumam dalam hati. Tidak ada lagi
yang bisa dimengerti dari negeri ini, dan tak ada yang bisa membuatnya
mengerti. Lucu, bahkan negeri ini jadi lucu. Semua sistem rusak, aneh dan
berantakan. Sampai sekarang dia masih belum mengerti untuk apa sistem kurikulum
terus menerus diganti. Untuk pendidikan yang lebih baik ?. Nyatanya tidak. Atau
itu hanya akal-akalan sang pembuat Kurikulum agar punya “bahan” pada saat
laporan pertanggungjawaban kabinet di 2014 nanti ? Tuhanlah yang tahu. Hukum,
Hukum juga sama saja. Simbol hukum di negeri ini mungkin seperti algojo yang
membawa pedang dengan dua mata, tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Ironis bukan
ketika Koruptor Triliunan Rupiah tidur nyenyak sedangkan nenek pencuri 2-3 buah
kelapa muda merasa gelisah memikirkan cucu-cucu kecilnya yang bisa jadi akan
mati tidak makan saat dia bertahun-tahun mendekam di penjara bersama
orang-orang yang layak berada disana sementara dia tidak ? Inilah negeriku
gumamnya dalam hati.
Agus
sering mendengar teman-temannya berdebat soal korupsi. Perdebatan dengan
pemikiran dangkal dan analisis asal-asalan lah yang iya dengar di telinga nya.
Dia memang lebih tahu karena tiap hari dia hidup di tengah orang-orang yang
mereka bicarakan tersebut, koruptor bejat itu. Menurutnya tidak perlu kitab
ribuan lembar atau buku-buku keramat pemerintahan untuk menyelesaiakan masalah
ini. Cukup hentikan koruptor-koruptor busuk itu. Ya, busuk. Koruptor tidak
lebih baik dari virus virus penyebab tumor atau kanker yang bisa menyebar dan
merusak seluruh sistem dalam tubuh. Sedikit pun mereka tidak lebih baik.
Koruptor-koruptor yang terlihat santun di tengah masyarakat, terlihat baik saat
tampil di televisi atau koruptor yang rajin sedekah dan punya berbagai yayasan
untuk kepentingan masyarakat. Baginya mereka tidak lebih terhormat dari virus.
Korupsi
sudah menjadi kebiasaan. Bahkan korupsi menjadi tolak ukur ke-keren-an seorang
pejabat pemerintahan. Semakin sering dan banyak jumlah yang di korupsi maka
semakin kerenlah mereka di mata sesamanya. Tetap mereka sangat hina di mata
Allah SWT. Di komplek iya tinggal, arisan
Ibu-Ibu komplek tidak lebih dari ajang pembanggan diri terhadap pencapaian
suami masing-masing, sang koruptor yang memberikan nafkah uang haram dan
memberikan dosa besar bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anaknya. Ada yang
dengan bangga mengatakan bahwa suaminya baru saja korupsi anggaran pembangunan
pondok pesantren dekat komplek, ada yang mengatakan bahwa suaminya baru saja
korupsi dana pengadaan Al-Qur`an. Ibu-ibu berdecak kagum dan memberikan tepuk
tangan meriah sementara agus merasa miris dan pedih bahkan menjadi sangat
kesal. Tapi tidak ada yang bisa ia perbuat. “ aku cuma orang kecil dan
pendatang ” , pikirnya dalam hati.
Sebenarnya
anak-anak koruptor terebut tidak menjauhi Agus. Mereka mau berteman dengan Agus
meski terkadang memanfaatkannya juga. Tapi agus memilih untuk sedikit menjauh
dan tidak terlalu akrab. Sebisa mungkin Agus menolak ketika mereka ingin
mengajak Agus makan, mengajak Agus ke bioskop - yang tak pernah ia kunjungi,
atau membelikan keperluan belajar. Karena Agus , bahkan mereka tahu bahwa uang
itu adalah hasil korupsi. Uang yang tidak lebih baik dari uang hasil perampok
bersenjata yang kemudian membunuh si pemilik uang. Tidak lebih baik pikirnya.
Dia
lebih memilih berkeringat setiap hari saat pergi dan pulang dari kampus dengan
berjalan kaki, menulis dengan bolpoin dan buku yang paling murah, memakai
kemeja yang dipakai selama tiga hari yang di pakaikan kapur barus agar tidak bau, kadang makan kadang tidak, kacamata tua
yang sudah kendur di makan usia-yang bahkan merupakan kacamatanya sejak kelas 1
SMA-yang sebenarnya tidak lagi cocok model dan minus lensanya. Agus lebih
memilih hidup seperti itu, dan berharap munculnya seseorang yang mampu merubah
keadaan. Atau paling tidak bisa membuatnya mengerti tentang negeri ini.
agus sangat keren
BalasHapus