Sabtu, 30 Maret 2013

Iseng

Cerpen ini aku tulis buat ikutan lomba cerpen bertemakan " Koruptor, alangkah lucunya negeriku" yang diadain kampus ku. Iseng ikutan sih awalnya, tapi ya paling udah ngasi partisipasi kan udah punya nilai plus. hehehe

AGUS dan KORUPTOR
                Seperti biasa, pagi ini agus mengawali hari dengan sarapan telur mata sapi, tanpa nasi. Uang bulanan yang sebenarnya tak cukup untuk hidup sebulan itu hanya tinggal beberapa keping logam dan beberapa lembar uang seribuan. Bahkan pagi ini Agus membagai dua telur itu sama-rata, membungkus nya dengan plastik gula beberapa hari yang ia cuci bersih untuk bekal makan siang di kampus. Beberapa tetes air mata sempat jatuh diatas telur itu, memberi rasa asin pengganti garam, yang tidak ia miliki.
                Agus memang menjalani hidup tidak semulus teman temannya, bahkan lebih buruk dari apa yang ia bayangkan. Agus tinggal di mesjid tua yang secara ajaib masih bisa berdiri kokoh di antara hotel dan plaza besar tempat orang elit menghabiskan waktu. Mesjid tua yang bahkan pada saat bulan ramadhan tidak terlalu ramai. Sedikit aneh tapi maklum, karena mesjid tua itu berada di komplek perumahan elit, yang katanya 85% merupakan koruptor kakap. Mereka membiarkan agus untuk tinggal disitu agar mesjid tersebut lebih terurus. Bukan karena peduli, tapi agar tidak terlalu malu ketika ada wartawan atau semacamnya meliput kehidupan keseharian mereka  dan mendapati mesjid tua itu terurus. Mereka juga pintar menjawab “ Untuk menjaga keaslian, karena ini mesjid bersejarah “ ketika ada wartawan bertanya mengapa mesjid tua itu tidak di perbaiki dan dibangun ulang agar terlihat lebih baik. Mereka tidak ingin uang mereka berkurang untuk itu, sangat tidak ingin.
                Agus tinggal di ruangan 3X4 yang dulunya merupakan gudang. Bahkan Agus masih tinggal dengan keranda tua dan mimbar  mesjid yang sudah lapuk dan beberapa peralatan kebersihan yang biasa ia gunakan untuk membersihkan mesjid tua itu, Mesjid Al-Barokah namanya. Sebenarnya agus juga sangat risih hidup di lingkungan koruptor-kouptor busuk tersebut, tapi demi cita-cita sarjananya dan demi meringankan kedua orangtua nya di kampung yang hanya buruh tani .
                Belakangan ini Agus lebih sering merenung dan bergumam-gumam dalam hati. Tidak ada lagi yang bisa dimengerti dari negeri ini, dan tak ada yang bisa membuatnya mengerti. Lucu, bahkan negeri ini jadi lucu. Semua sistem rusak, aneh dan berantakan. Sampai sekarang dia masih belum mengerti untuk apa sistem kurikulum terus menerus diganti. Untuk pendidikan yang lebih baik ?. Nyatanya tidak. Atau itu hanya akal-akalan sang pembuat Kurikulum agar punya “bahan” pada saat laporan pertanggungjawaban kabinet di 2014 nanti ? Tuhanlah yang tahu. Hukum, Hukum juga sama saja. Simbol hukum di negeri ini mungkin seperti algojo yang membawa pedang dengan dua mata, tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Ironis bukan ketika Koruptor Triliunan Rupiah tidur nyenyak sedangkan nenek pencuri 2-3 buah kelapa muda merasa gelisah memikirkan cucu-cucu kecilnya yang bisa jadi akan mati tidak makan saat dia bertahun-tahun mendekam di penjara bersama orang-orang yang layak berada disana sementara dia tidak ? Inilah negeriku gumamnya dalam hati.
                Agus sering mendengar teman-temannya berdebat soal korupsi. Perdebatan dengan pemikiran dangkal dan analisis asal-asalan lah yang iya dengar di telinga nya. Dia memang lebih tahu karena tiap hari dia hidup di tengah orang-orang yang mereka bicarakan tersebut, koruptor bejat itu. Menurutnya tidak perlu kitab ribuan lembar atau buku-buku keramat pemerintahan untuk menyelesaiakan masalah ini. Cukup hentikan koruptor-koruptor busuk itu. Ya, busuk. Koruptor tidak lebih baik dari virus virus penyebab tumor atau kanker yang bisa menyebar dan merusak seluruh sistem dalam tubuh. Sedikit pun mereka tidak lebih baik. Koruptor-koruptor yang terlihat santun di tengah masyarakat, terlihat baik saat tampil di televisi atau koruptor yang rajin sedekah dan punya berbagai yayasan untuk kepentingan masyarakat. Baginya mereka tidak lebih terhormat dari virus.
                Korupsi sudah menjadi kebiasaan. Bahkan korupsi menjadi tolak ukur ke-keren-an seorang pejabat pemerintahan. Semakin sering dan banyak jumlah yang di korupsi maka semakin kerenlah mereka di mata sesamanya. Tetap mereka sangat hina di mata Allah SWT.  Di komplek iya tinggal, arisan Ibu-Ibu komplek tidak lebih dari ajang pembanggan diri terhadap pencapaian suami masing-masing, sang koruptor yang memberikan nafkah uang haram dan memberikan dosa besar bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anaknya. Ada yang dengan bangga mengatakan bahwa suaminya baru saja korupsi anggaran pembangunan pondok pesantren dekat komplek, ada yang mengatakan bahwa suaminya baru saja korupsi dana pengadaan Al-Qur`an. Ibu-ibu berdecak kagum dan memberikan tepuk tangan meriah sementara agus merasa miris dan pedih bahkan menjadi sangat kesal. Tapi tidak ada yang bisa ia perbuat. “ aku cuma orang kecil dan pendatang ” , pikirnya dalam hati.
                Sebenarnya anak-anak koruptor terebut tidak menjauhi Agus. Mereka mau berteman dengan Agus meski terkadang memanfaatkannya juga. Tapi agus memilih untuk sedikit menjauh dan tidak terlalu akrab. Sebisa mungkin Agus menolak ketika mereka ingin mengajak Agus makan, mengajak Agus ke bioskop - yang tak pernah ia kunjungi, atau membelikan keperluan belajar. Karena Agus , bahkan mereka tahu bahwa uang itu adalah hasil korupsi. Uang yang tidak lebih baik dari uang hasil perampok bersenjata yang kemudian membunuh si pemilik uang. Tidak lebih baik pikirnya.
                Dia lebih memilih berkeringat setiap hari saat pergi dan pulang dari kampus dengan berjalan kaki, menulis dengan bolpoin dan buku yang paling murah, memakai kemeja yang dipakai selama tiga hari yang di pakaikan kapur barus agar tidak bau, kadang makan kadang tidak, kacamata tua yang sudah kendur di makan usia-yang bahkan merupakan kacamatanya sejak kelas 1 SMA-yang sebenarnya tidak lagi cocok model dan minus lensanya. Agus lebih memilih hidup seperti itu, dan berharap munculnya seseorang yang mampu merubah keadaan. Atau paling tidak bisa membuatnya mengerti tentang negeri ini.

1 komentar: